Uniquesehat.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI membeberkan daftar penyakit yang paling banyak dialami oleh para korban bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Di tengah kondisi lingkungan yang basah, lembap, dan fasilitas sanitasi terbatas, berbagai keluhan kesehatan mulai muncul di posko-posko pengungsian.
Kemenkes menegaskan bahwa penanganan medis cepat sangat diperlukan, terutama untuk mencegah lonjakan penyakit menular yang sering muncul setelah bencana besar.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): Kasus Tertinggi
ISPA menjadi penyakit yang paling banyak dialami pengungsi, terutama anak-anak dan lansia.
Kondisi udara lembap, suhu dingin, serta kepadatan tempat tidur di posko membuat bakteri dan virus mudah menyebar.
Faktor pemicu ISPA pascabencana:
- Paparan angin dingin dan air hujan
- Asap dari pembakaran sampah di sekitar pengungsian
- Kelembapan tinggi di ruangan penampungan
- Daya tahan tubuh menurun akibat kelelahan
ISPA ringan biasanya ditangani dengan obat dan istirahat, namun Kemenkes mengingatkan agar pengungsi mewaspadai gejala berat seperti sesak napas dan demam tinggi.
Diare & Gangguan Pencernaan
Diare juga menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan setelah bencana.
Kerusakan fasilitas sanitasi dan terbatasnya air bersih menjadi faktor utama.
Penyebab umum diare di lokasi bencana:
- Air minum yang tidak steril
- Kontaminasi makanan di posko
- Cuci tangan tidak optimal
- Penyimpanan makanan yang tidak higienis
Kemenkes telah mengirimkan tim untuk memastikan pasokan air bersih dan edukasi sanitasi dilakukan secara intensif.
Penyakit Kulit: Gatal, Infeksi Jamur, hingga Alergi
Banjir dan lingkungan yang penuh lumpur membuat kasus penyakit kulit meningkat signifikan.
Keluhan seperti gatal, bintik merah, dan infeksi jamur banyak menyerang anak-anak.
Jenis penyakit kulit yang sering muncul:
- Dermatitis (iritasi kulit)
- Infeksi jamur (panu, kurap, kutu air)
- Eksim akibat pakaian basah terlalu lama
Kurangnya pakaian kering dan fasilitas mandi menjadi pemicu utamanya.
Demam Berulang & Risiko DBD
Meskipun belum ditemukan lonjakan besar kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), demam berulang mulai banyak dikeluhkan pengungsi.
Genangan air pasca banjir menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Langkah antisipasi Kemenkes:
- Penyemprotan fogging terbatas
- Pembagian lotion anti-nyamuk
- Edukasi untuk menjaga kebersihan lingkungan posko
Kemenkes mengingatkan potensi kenaikan kasus jika curah hujan masih tinggi.
Masalah Psikologis: Cemas, Trauma, dan Stress Akut
Selain penyakit fisik, banyak korban mengalami gangguan psikologis setelah kehilangan rumah, keluarga, atau harta benda.
Keluhan psikologis umum di pengungsian:
- Serangan panik
- Sulit tidur
- Trauma suara hujan
- Kecemasan berlebih terhadap bencana susulan
Kemenkes menurunkan tim psikososial untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak dan keluarga terdampak.
Kemenkes Kerahkan Tenaga Medis & Obat-Obatan ke Lokasi
Dalam respon cepat, Kemenkes menurunkan berbagai dukungan:
- Mobil ambulans tambahan
- Tenaga kesehatan (dokter umum, bidan, perawat, psikolog)
- Obat-obatan dasar & antibiotik
- Paket hygiene kit untuk pengungsi
- Tim surveilans epidemiologi untuk memantau penyakit menular
Kemenkes mengungkap bahwa penyakit yang paling banyak dialami korban bencana di Aceh–Sumut–Sumbar adalah ISPA, diare, penyakit kulit, demam berulang, dan gangguan psikologis.
Dengan kondisi lingkungan yang belum stabil, penanganan dini menjadi kunci agar tidak terjadi lonjakan kasus penyakit menular.
Upaya pemulihan kesehatan terus dilakukan, dan masyarakat diimbau menjaga kebersihan serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala berat.
Dapatkan informasi Mengenai Fashion Terkini Hanya di >UniqueRupa.com
